Perkara Mandek, Kuasa Hukum Pertanyakan Kasus Penganiayaan



Demi mendapat keadilan dan kepastian hukum dalam kasus penganiayaan dengan kekerasan yang menimpa AS dan EE yang sudah berjalan selama hampir 3  bulan lebih tanpa kejelasan. 

Tim Kuasa hukum korban/pelapor,  Satria Khairul Umam, S.H.,M.Kn Aldi Ferdian, SH, Hasan Bisri,S.H.,M.Kn dan Wahyu Setiawan,SH, Kabid Hukum 234 SC Regwil Karawang mempertanyakan kelanjutan kasus kliennya dan meminta pihak kepolisian Polres Karawang tidak tebang pilih dalam penegakan hukum.

Pada media Nasionalita, Senin (26/07/2021) Kuasa hukum korban, Satria menjelaskan "Laporannya dibuat itu sama, tanggal (31/5/21), habis magrib. Yang melaporkan dia juga sama tapi jam 5 (lima) sore. Perbedaanya kita sebagai terlapor, kasus kita jalan ditempat, sedangkan dia (pihak pelapor) hari Senin itu bikin laporan, besoknya itu langsung dipanggil. Sedangkan laporan kita belum, padahal pelaporan dihari yang sama", ucapnya.

Lanjutnya Satria mengkhawatirkan terjadinya pembiaran hukum dalam tindak pidana kekerasan terhadap AS, Jika penegakan hukum terhadap pelaku kekerasan ini lunak, ke depan bisa menjadi preseden buruk dalam penegakan hukum dikasus yang sama.

"Kalau itu memang berperoses samalah, apalagi ini sudah unsurnya jelas gitu loh, dan ini tindak pidana istilahnya beratlah, orang kekerasan dan perampasan", ungkapnya.

Sementrara hasil dari wawancara dengan AS (korban kekerasan) dengan detail menceritakan bahwa sebelum mendapat perlakuan yang tidak mengenakan dari atasannya itu, mengatakan sempat diintimidasi hingga dipukuli agar mengaku menggelapkan uang perusahaan sebesar 1,1 Miliar Rupiah bersama EE yang pada saat itu bekerja sebagai Staf Admin.

"Sebelumnya saya itu bekerja di PT. SGM (Inisial) sebagai staf operator lapangan  bersama EE sebagai Staf Admin. Awalnya itu di Hari Senin tanggal 24 Mei 2021, awal kejadiannya kita dituduh menggelapkan uang Rp. 1,1 Miliar (Uang Perusahaan), sampai di audit, tapi tidak ketemu. Tapi kita ditanggal 24 itu habis isya jam 8 (delapan) malam, kita sudah mulai di intimidasi",terangnya

"Dipukul, disuruh ngaku, silam zolim, sikap tobat dalam waktu 20 Menit, selesai sampai jam tiga pagi", bebernya.

Tidak sampai disitu AS Bahkan mengalami perbuatan yang sampai kapanpun tidak akan terlupakan olehnya, yakni dipaksa untuk mengoleskan balsem ke kemaluannya.

"Datang lagi di Hari Selasa (25/5), sama, cuma kita sempat dibawa ke Bank untuk cetak rekening koran. Pulang dari cetak rekening koran, lanjut sambil audit, kita disiksa juga",Katanya 

"Kater, Balsem sudah dibeli, sengaja sudah dibeli, sampai jeruk nipis juga. Saya dipisah dengan EE disiksanya, kekerasannya lebih ke saya, dipukul dada, ditotok, dipukul pake penggaris, ditendang depan dan punggung sampai dipaksa mengoleskan balsem ke kemaluan", ungkapnya.

AS mengungkapkan bahwa terduga pelaku yang melakukan kekerasan fisik terhadapnya adalah owner hingga direktur perusahaan dan satu ajudan yang diketahui belakangan adalah diduga Pegawai Negeri Sipil (PNS).

"Terduga pelakunya Big Bos sendiri atas nama MR sebagai owner PT. SGM, terus IG, ajudan bos, adalagi IGU itu Direktur Utama di perusahaan itu", jelasnya.

Oleh karena sekaku Kuasa Hukum dalam kasus tersebut, Satria dengan tegas seharusnya Polres Karawang berlaku adil dalam penanganan laporan di hari yang sama tersebut. Bahkan menurutnya kasus yang ditanganinya termasuk penganiayaan dengan kekerasan atau lebih berat dibanding kasus penggelapan yang dilaporkan oleh perusahaan tersebut.

"Harusnya lebih ditindak lanjuti karena antara laporan mereka dengan laporan kita itu dengan hari yang sama juga, tapi kita belum mendapatkan SPDP sedangkan mereka sudah",tutupnya.(teguh)